-->
  • Jelajahi

    Copyright © HarianUmmat.com | All About Indonesia
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan Halaman Depan

    Menu Bawah

    Pantaskah Orang Tua Memberi Hukuman Anak Yang Berbuat Salah?

    Harian Ummat
    19 Februari 2021, 04:08 WIB Last Updated 2021-02-18T21:08:59Z
     
    Pantaskah Orang Tua Memberi Hukuman Anak Yang Berbuat Salah?

    Oleh : Nahrulllah Jumadi 

    Jika kita berbicara pantas atau tidak pantas memberi hukuman pada anak, saya yakin setiap kita sebagai orang tua punya pendapat yang berbeda-beda. Ada yang sepakat dan ada pula yang tidak sepakat. Beda pendapat ini pun seringkali juga dilatar belakangi oleh masa lalu orang tuanya dahulu. 

    Orang tua yang masa kecilnya penuh dengan kasih sayang. Serta diberi hak2 dengan baik yakni di nasehati, diberi contoh yang baik, ditegur jika salah dan di sanjung jika berbuat baik. Berbeda dengan orang tua yang saat masa kecil dulu sering menerima hukuman dari orang tuanya. Karena sering menerima hukuman, maka setelah punya anak orang tua seringkali berpijak pada 2 kondisi yang ektrem ketika menjumpai anaknya melakukan kesalahan, yakni :

    1. Memberi hukuman pada anak yang salah MELEBIHI SAAT DIRINYA dulu diberi hukuman orang tuanya. Ya, sulit rasanya, untuk jadi orang tua yang penuh kasih sayang, jika sewaktu kecil biasa hidup dengan kekerasan dan berbagai hukuman. Sehingga dirinya hanya punya pandangan bahwa mendisplikan anak hanya dengan satu cara yakni MEMBERIKAN NYA HUKUMAN

    2. Sedangkan kondisi Ektrem kedua Justru sebaliknya, yakni ketika orang tua melihat anaknya berbuat salah DIA TAK KUASA MEMBERIKAN HUKUMAN. Masa lalu nya telah menimbulkan rasa iba dan trauma dengan hukuman2. Karena rasa pedihnya bercampur antara sakit hati dan fisik saat diberi hukuman, sehingga dirinya tak tega memberikan hukuman pada anak2 yang jelas2 berbuat salah. 

    Kedua kondisi diatas tentu bukan sikap yang baik untuk dipegang orang tua, sebab ke 2 sikap diatas sejatinya sangat merugikan dan merusak kepribadian, kejiwaan dan fisik anak2 kita. Anak yang seharusnya saat dewasa nanti mampu mengemban amanah umat, ternyata sudah rusak kepribadian, jiwa dan fisiknya sejak awal. Semua itu tak lain karena kita sebagai orang tua TAK MEMAHAMI MAKNA HUKUMAN BAGI SEORANG ANAK 

    Pertanyaannya, apakah tidak boleh kita menerapkan hukuman ? 

    Memberikan hukuman itu boleh2 saja, bahkan Allah Ta’alla pun juga akan memberikan hukuman pada hamba Nya yang membangkang perintah dan larangan Nya. Hidup bermasyarakat atau bernegara pun juga ada hukumannya jika melakukan kesalahan. Intinya bahwa hukuman itu adalah bagian dari kehidupan manusia. 

    Cuma, persoalanya yakni PANTASKAH ORANG TUA MEMBERI HUKUMAN ANAK YANG BERBUAT SALAH ? Kalau sudah terkait dengan memberikan hukuman pada anak, maka setiap orang tua harus bisa bijak menyikapinya. Tidak setiap kesalahan yang dilakukan anak itu harus diganjar dengan hukuman. Dan tidak setiap anak yang berbuat salah berulang2 itu harus menderita karena menerima berbagai hukuman dari kita

    Kita sering kali sebagai orang tua terlalu menyederhanakan persoalan ketika anak berbuat salah, yakni dengan memberikannya hukuman. Memberikan hukuman agar anak tidak melakukannya kesalahan dipandang cara yang paling mudah dan tidak merepotkan orang tua, terlebih lagi bagi para orang tua yang super sibuk. Salah sedikit hukum, keliru sedikit hukum dll, jauh dari kasih sayang orang tua pada anak.  

    Seringkali para orang tua, ingin jalan pintas menjadikan anak baik dan patuh, yakni memberikannya hukuman. 

    Sedangkan di satu sisi MISKIN NASEHAT, TAULADHAN, TEGURAN dan PUJIAN.  Akhirnya, anak kalau tidak trauma dengan hukuman, maka dia anak menjadi anak yang kebal hukuman karena seringnya diberi hukuman orang tua. 

    Saya ada ceria tentang tema ini : 

    Pernah suatu ketika kita ada santriwati yang nekat pulang ke rumah padahal sudah dilarang (bukan waktunya pulang dari pondok, tapi waktu jenguk). Dan orang tua nya pun juga sudah tahu bahwa waktu pulang hanya pada awal bulan saja. 

    Akhirnya santriwati ini pun nekat pulang, bapak dan anak sama2 melanggar aturan yang telah disepakati pondok. Ketika kita tanyakan pada orang tau nya,  bahwa itu adalah kesalahan dan nanti akan kita hukum anaknya (sebab tidak mungkin harus menghukum orang tuanya yang salah). Orang tua nya bilang : Hukum saja pak anaknya kalau salah, kira2 kalau boleh tahu hukumannya apa ya ? Saya usul pak, kalau bisa ada jenis2 hukumannya di pondok biar kita tahu.

    Disitu lah hati saya pun miris, lho kenapa ya kok terkesan malah minta hukuman ? Bahkan tanya pula hukumannya apa ? Bahkan usul ada jenis hukumannya juga, sehingga bisa memilih. He ..He, hukuman anak kok kayak menu makanan.

    Anak dan orang tua terkesan, sengaja melanggar hukuman yang telah dibuat, toh nanti kan juga hanya dihukum saja, setelah itu kan urusannya selesai. Jika hukuman benar2 diterapkan, yakin anak juga tak akan sadar untuk tidak mengulanginya lagi. Apalagi hukuman yang diberikannya lebih ringan dari yang pernah dirasakannya, Naudzubillahi min dzalik  

    Cerita yang saya sampaikan diatas adalah gambaran orang tua yang biasa menghukum anak dan anak yang sudah sangat biasa diberi hukuman. Akhirnya, seorang anak terpola bahwa melanggar itu ngak masalah, yang penting siap di hukum. Anak kebal dari hukuman, apalagi yang menghukum pondok, yang sejak awal telah berkomitmen tidak memberikan hukuman pada santri/wati nya, tapi lebih mengedepankan NASEHAT, TAULADHAN, TEGURAN DAN SANJUNGAN.

    Saya yakin, bahwa setiap orang tua yang masih memberikan hukuman pada anak punya niat yang baik, tapi ingat niat yang baik saja belum cukup. Sebab hukuman itu ADA WAKTU DAN TEMPAT nya. Sebab bagi seorang anak, yang belum punya nalar yang baik, hukuman yang kita berikan tidak semuanya dipandang baik untuk mereka. 

    JADI JANGAN MAIN2 DENGAN HUKUMAN ANAK, SEBAB BISA JADI JUSTRU HUKUMAN2 KITA YANG AKAN MERUSAK ANAK KITA NANTI .....

    TAPI KEDEPANKAN LAH, NASEHAT, TAULADHAN, TEGURAN DAN SANJUNGAN ......    

    Wallahu 'alam bishowab

    Partner Sindikasi Konten:  MENDIDIK ANAK BERKARAKTER SEJAK USIA DINI (Diambilkan dari Catatan harian Pola Pendidikan di PONPES TAHFIZHUL QUR'AN "KH khoirotun Hisan" (KH PUTRA) & (KH PUTRI) 
    0823 2474 5151 (WA)

    Diterbitkan: HarianUmmat.com
    Editor: Aisha Syifa

    YUK BANTU SHARE ......
    MASIH ADA KUOTA SANTRI KH (PUTRA) & (PUTRI) Lulusan SD/MI - PENDAFTARAN SETIAP SAAT SELAMA KUOTA MASIH ADA 

    PENDAFTARAN SANTRIWATI BERKARYA (LULUSAN SMA/MA - TIDAK MAMPU)
    Komentar

    Tampilkan

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar

    Berita Terbaru

    loading...