-->
  • Jelajahi

    Copyright © HarianUmmat.com | All About Indonesia
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan Halaman Depan

    Menu Bawah

    Dibalik Uang Jajan Santri/Wati KH, Ada Nilai Pembelajaran Bagi Anak

    HarianUmmat.com
    25 Februari 2021, 23:15 WIB Last Updated 2021-02-25T16:15:58Z
    Dibalik Uang Jajan Santri/Wati KH, Ada Nilai Pembelajaran Bagi Anak

    Oleh : Nashrullah Jumadi          

    Ada sebagaian teman yang menyampaikan ke kita, bahwa menjalankan konsep “PONPES TAHFIZH QUR’AN TEMPO DULU” sebagaimana yang saat ini dijalankan oleh KH, hal yang gampang dibuat dan dilalukan. Sebab tidak membutuhkan tempat yang luas, sapra yang serba lengkap dan tentunya jumlah santri/wati pun juga tidak mengharuskan banyak.

    Pandangan sebagaimana diatas memang tidak salah mutlak, sebab kenyataannya memang dengan tempat yang apa adanya, sapra yang tidak harus lengkap dan jumlah santri/wati yang tidak banyak, bisa dan mudah dilakukan oleh siapa pun. Tapi ada yang tak di mampui oleh setiap orang,  yakni MENANAMKAN NILAI KEBAIKKAN PADA ANAK SECARA LANGSUNG. 

    Ya, MENANAMKAN NILAI2 KEBAIKAN SECARA LANGSUNG adalah kelebihan dari konsep ini, sehingga tidak banyak aturan dan hukuman yang harus dibuat, sebab seorang pengasuh tidak memposisikan hanya sebagai ustadz/ah semata. Tapi pengasuh di KH lebih dari itu yakni sebagai teman, Team yang hebat dan yang paling penting sebagai orang tua selama ada di pondok KH. 

    Maka, setiap ada santri/wati yang melakukan kesalahan sebagai seorang anak, kurang pas dan tidak terbiasa menjalani amal yaumi akan cepat dan mudah diketahui, sehingga bisa segera dilakukan perbaikan. Jika ternyata perbaikan membutuhkan peran serta orang tua, maka orang tua bisa segera diajak untuk membenahi anak bersama2 dengan pengasuh KH. 

    Sehingga kesalahan atau kurang terbiasanya anak menjalani amal yaumi sebagai seorang muslim/ah, tidak berlarut2 sampai akhirnya menjadi bagian dari karakter anak. Setiap yang kurang pas pada anak, dengan mudah dipantau dan diluruskan kembali. 

    Hal ini tentu beda dengan ketika anak mondok di ponpes yang besar, jumlah santri/wati yang banyak, gedung yang megah dan fasilitas yang komplit. Terkadang kesalahan atau kebiasaan buruk yang dilakukan anak tidak mampu terpantau dengan baik. 

    Tidak terpantaunya bukan karena tidak perhatian, tapi karena kurang fokus saja sebab banyak yang harus dikerjakan oleh para pengasuh selain mengawasi dan mengontrol anak2. 

    Akhirnya kesalahan/kebiasaan yang tidak segera dibenahi berlalu begitu saja, seakan2 tidak ada masalah yang berarti bagi anak. Lama2, tanpa kita sadari telah menjadi bagian karakter dasar anak kita yang sulit kita benahi, Naudzubillahi min dzalik

    Salah satu Penanaman nilai pada anak yang diterapkan oleh KH yakni UANG JAJAN ANAK. 

    Terkait dengan uang jajan ini, ada berapa model yang diterapkan di ponpes saat ini, antara lain :

    ⬜. Ada ponpes yang membatasi jumlah nominal uang jajan yang harus dibawa anak selama tinggal di pondok, sehingga antara anak orang kaya dan miskin diperlakukan sama.

    ⬜. Ada yang menerapkan pula, bahwa uang jajan dikumpulkan dan dipegang oleh pengasuh/santri/wati senior, sehingga anak2 yang mau jajan harus menghubungi terlebih dahulu.

    Terkait dengan uang jajan santri/wati, KH memposisikan berada di tengah2 antara anak dan orang tua. Selebihnya biar orang tua dan anak yang menentukan sendiri berapa besarnya dan kapan diberikan pada anak. 

    DIBALIK UANG JAJAN SANTRI/WATI KH, ADA NILAI PEMBELAJARAN BAGI ANAK ......Ini lah tema catatan saya kali ini.        

    Terkait dengan uang jajan anak, ternyata tidak setiap orang tua mampu menjadikannya sebagai proses pembelajaran bagi anaknya. 

    Bahkan banyak para orang tua yang punya pemahaman yang salah terkait dengan uang jajan anak2 mereka. 

    1. Ada yang punya pemahaman bahwa uang jajan anak adalah beban orang tua. Karena dianggap sebagai beban, maka orang  tua tidak memberikan sama sekali atau memberi uang jajan hanya sesekali saja pada anak, itu pun kalau tidak lupa. Padahal sejatinya uang jajan anak adalah hak anak2 kita yang harus kita tunaikan.

    2. Ada yang beranggapan pula, bahwa uang jajan anak bisa membuat anak hidup boros se maunya, sehingga anak tidak perlu dikasih uang jajan.

    Point 1 dan 2 ini adalah gambaran orang tua yang tak paham akan pentingnya uang jajan bagi seorang anak dan tidak memahami pula,  bahwa sejatinya uang jajan anak adalah salah satu hak anak yang harus ditunaikan oleh orang tua selagi mereka masih anak2.

    Pada akhirnya,  tak jarang anak punya kesimpulan sendiri bahwa orang tuanya  adalah sosok yang pelit di mata anak2 nya, sedangkan pada orang lain tidak. 

    Uang jajan yang tak seberapa saja, anak harus meminta2 dan memenuhi beberapa syarat yang harus dikerjakan, padahal orang tua saat itu juga sedang pegang uang.

    3. Tapi ada juga orang tua yang TAK BISA MEMBERI UANG JAJAN YANG CUKUP pada anak, tapi juga TAK MAMPU menjadikan proses pemberian uang jajan anak sebagai bagian dari proses pembelajaran bagi anak.  

    4. Ada juga orang tua yang TAK BISA MEMBERI UANG JAJAN YANG CUKUP pada anak, tapi MAMPU menjadikan proses pemberian uang jajan anak sebagai bagian dari proses pembelajaran bagi anak.  

    5. Ada juga orang tua YANG BISA MEMBERI UANG JAJAN YANG CUKUP pada anak, tapi TAK MAMPU menjadikan proses pemberian uang jajan anak sebagai bagian dari proses pembelajaran bagi anak. Sehingga anaknya tahu nya hanya meminta uang dan menghabiskannya.

    6. Tapi ada juga orang tua YANG MAMPU MEMBERIKAN UANG JAJAN YANG CUKUP pada anak, dirinya pun JUGA MAMPU menjadikan proses pemberian uang jajan anak sebagai bagian dari proses pembelajaran bagi anak. 

    PEMBERIAN UANG JAJAN ANAK, SEBAGAI BAGIAN DARI PROSES PEMBELAJARAN BAGI ANAK tidak ada kaitannya dengan orang tuanya kaya atau miskin atau orang tuanya punya pendidikan tinggi atau tidak. 

    Sebab pemberian uang jajan itu terletak bukan pada nilai nominal yang mampu diberikan orang tua pada anak. 

    Orang tua yang bisa memberikan uang jajan anaknya lebih banyak bukan berarti dirinya lebih peduli dan perhatian pada anak, dari pada orang tua yang hanya bisa memberi uang jajan pada anaknya sedikit saja. 

    Tidak....! Sekali lagi tidak, sebab pemberian uang jajan pada anak,  ada yang lebih penting dari hanya sekedar nilai nominal, yakni NILAI2 KEBAIKAN pada anak2 kita. 

    Karena uang jajan anak itu bagian dari hak2 anak dan hak anak adalah bagian dari fitroh seorang anak, maka SETIAP ORANG TUA SEJATINYA MAMPU MEMBERIKAN PEMBELAJARAN PADA ANAK atas uang jajan yang diberikan  pada mereka. 

    Jika tidak, kemungkinannya orang tua tersebut punya pemahaman dan pandangan yang keliru dalam mendidik anak2 mereka terkait dengan uang jajan anak. 

    Pada kasus lapangan di KH, ada santri/wati yang diberikan uang jajan yang cukup oleh orang tuanya. Dirinya pun mampu berhemat dengan uang jajan tersebut, bahkan dirinya juga mampu menabung untuk membeli barang /pakaian yang dia sukai kalau liburan nanti. 

    Ada juga santiri/wati yang diberikan uang jajan yang sangat minim sekali orang tuanya, tapi saat uang jajan habis, dirinya tidak galau atau rewel pada pengasuh atau orang tua. Dia menerima dengan senang hati (Qona’ah), apalagi di KH sudah dapat jatah makan yang cukup dan sesekali (minimal 1 pekan 2x dibelikan jajan juga oleh pengasuh). 

    Yang lebih ironis lagi, ada santri/wati yang tak diberikan uang jajan yang cukup oleh orang tuanya karena tak mampu, tapi justru anaknya hidup boros dan suka jajan. Setiap pemberian orang tua tak merasa cukup. Dan kalau uang jajan habis, maka akan merepotkan pengasuh dan lainnya,  agar bisa segera menghubungi orang tua untuk minta tambahan uang jajan.

    Dari kasus sebagaimana yang saya sampaikan diatas, bahwa tidak ada jaminan bahwa anak orang mampu itu hidup nya serba boros dengan uang jajannya. 

    Dan tidak ada jaminan pula bahwa anak orang tidak mampu, bisa hidup hemat dan qona’ah /menerima apa adanya dari pada anak orang mampu. 

    Semua itu tergantung kita sebagai orang tua, MAU DAN MAMPU menanamkan nilai2 kebaikan pada anak atau tidak. 

    Wallahu 'alam bishowab

    Partner Sindikasi Konten:  MENDIDIK ANAK BERKARAKTER SEJAK USIA DINI (Diambilkan dari Catatan harian Pola Pendidikan di PONPES TAHFIZHUL QUR'AN "KH khoirotun Hisan" (KH PUTRA) & (KH PUTRI) 
    0823 2474 5151 (WA)

    Diterbitkan: HarianUmmat.com
    Editor: Aisha Syifa

    YUK BANTU SHARE ......
    MASIH ADA KUOTA SANTRI KH (PUTRA) & (PUTRI) Lulusan SD/MI - PENDAFTARAN SETIAP SAAT SELAMA KUOTA MASIH ADA 

    PENDAFTARAN SANTRIWATI BERKARYA (LULUSAN SMA/MA - TIDAK MAMPU)
    Komentar

    Tampilkan

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar

    Berita Terbaru