-->
  • Jelajahi

    Copyright © HarianUmmat.com Berita Terkini Hari Ini Harian Ummat
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Menu Bawah

    HARIAN UMMAT
    Sabtu, 10 Januari 2026, 14:58 WIB Last Updated 2026-01-11T13:02:58Z

    Di Antara Rindu dan Sebuah Jeda

    Senin malam, 5 Januari, menjadi titik yang sulit kuhapus dari ingatan. Di sebuah parkiran rumah sakit milik pemerintah, aku dan FL bertemu. Malam itu sunyi, tetapi perasaan justru riuh. Rindu tumpah tanpa kendali, kedekatan terasa begitu nyata, hingga dalam benakku FL seolah benar-benar menjadi milikku seutuhnya. Waktu berjalan cepat, terlalu cepat, kami melakuan "sesuatu" meninggalkan jejak yang kemudian menghadirkan kegelisahan.

    Jeda selasa hingga Rabu pagi, kekhawatiran menyusul. Kami sepakat kembali bertemu untuk menyikapi kemungkinan terburuk. Namun cemas dan lama memunggu rupanya membuat suasana berubah. FL sempat marah, melontarkan kata-kata kasar lewat WhatsApp—kata-kata yang tak sempat kubaca karena segera ia hapus. Entah emosi sesaat, entah ada luka yang tak sempat ia ucapkan.

    Kamis sore, kami kembali berjumpa. Tidak ada pertengkaran, tidak pula perdebatan. Hanya rindu yang dilepas dengan cara sederhana. FL setia mengantarku mencukur rambut, menemani tanpa banyak tanya. Saat perjalanan pulang, hujan turun deras. Dalam pelukannya, aku merasa hidup ini seakan hanya milik kami berdua—hangat, akrab, dan penuh harapan.

    Jumat pagi, semuanya masih tampak baik-baik saja. Siang dan sore kami masih saling berkabar. Hingga malam tiba, sebuah percakapan kecil terdapat kalimat muncul Singkat, namun terasa tidak enak saat kubaca. Sebuah kata yang mungkin biasa bagi logika tetapi terasa luar biasa dihati, hingga meninggalkan getar yang tak biasa di dada. Hingga aku tidak lagi membalas percakapan itu, dan berkabar seperti yang biasa aku lakukan. 

    Sabtu pagi, 10 Januari 2026, keadaan berubah drastis. FL marah. Ia menyampaikan bahwa sikap dan perlakuanku sudah tidak bisa ia terima. Aku terdiam, bingung, mencoba mengingat-ingat kesalahan yang mungkin kulakukan.

    Tak lama kemudian, pesan panjang itu datang. Sebuah luapan kelelahan dan kejujuran yang menusuk:

    “Maaf aku cuma manusia biasa yg punya batas rasa sabar dan aku udah benar2 ngadepin km dengan sabar aku yg benar2 luas, tapi aku capek juga diginiin terus2an tiap harinya. Mendingan kita sama2 instropeksi dulu aja, BREAK aja dulu biar km makin puas kesel, dongkol, marah ke aku.”

    Aku membaca berulang kali. Kata break menggantung di kepalaku, membuatku terbengong, sedih, dan tak mampu berkata apa-apa. Aku mencoba menjelaskan, berharap ada ruang untuk saling memahami. Namun FL tetap kukuh pada pendiriannya.

    Pesan kedua pun menyusul—lebih panjang, lebih dalam, dan jauh lebih menyakitkan:

    “Kasih aku waktu buat introspeksi ke diri aku sendiri, aku sayang & cinta bgt sama kmu & itu udah aku buktiin ke kmu, tapi aku sadar ternyata kmu gak sebahagia ini sama aku, krn aku cuma buat hari hari kmu kesel, dongkol, marah, ragu ke aku.
    Aku sedih ternyata aku cuma buat beban pikiran kmu & kesel, marah, dongkol trs. Ternyata udah sampai di titik ini aku gagal buat orang yg aku sayang aku cinta bahagia sama aku.”

    Pesan itu meruntuhkan dadaku perlahan. Bukan karena aku tak cinta, tetapi karena merasa gagal menjaga perasaan orang yang justru paling ingin kubahagiakan.

    Dengan perasaan kecewa yang kutahan, aku membalas singkat:

    “Baik sayang… jika itu yang membuat kamu bahagia, maka lakukanlah…”

    Pesanku terbaca. Namun setelah itu, FL memilih diam. Tak ada balasan, tak ada penjelasan lanjutan. Hanya sunyi yang terasa semakin berat.

    Aku pun terjebak dalam dua pilihan: pasrah pada keadaan, atau berusaha membujuk agar ia kembali. Antara mempertahankan atau melepaskan. Antara ego dan cinta.

    Aku mencoba berpikir positif. Dalam benakku, hubungan ini seperti perjalanan panjang di jalan raya. Mungkin FL hanya ingin menepi sejenak, berhenti di rest area untuk mengistirahatkan hati dan pikirannya. Jika lelah itu hilang, mungkin ia akan kembali menyalakan mesin—dan melanjutkan perjalanan.

    Entah bagaimana akhirnya nanti, aku hanya belajar satu hal:
    Kita hidup mengikuti apa yang semesta hadirkan. 

    Aku sadar, tidak semua hal bisa dikendalikan.

    Ada bagian hidup yang memang harus diterima, dijalani, dan diikhlaskan.

    Aku terima keputusan FL, 

    Akan kujalani yang menjadi kemauan FL.

    Tetapi aku belum ikhlas jika harus hidup tanpa FL.

    FL Aku menungguMU....


    Komentar

    Tampilkan

    BERITA TERBARU

     

    OPINI

    +