Ada kisah yang hadir begitu saja—tanpa rencana, tanpa peta, namun meninggalkan jejak yang sulit dilupakan. Begitulah perjalanan satu bulan bersama FL, sebuah rangkaian pertemuan yang sederhana, kadang terasa aneh, namun penuh rasa.
Setelah pertemuan pertama pada 3 Desember 2025, di salah satu karaoke ternama di Bandar Lampung. Hari itu dipenuhi tawa dan kebahagiaan ringan, seolah semesta sedang memberi isyarat bahwa cerita ini akan berjalan dengan caranya sendiri.
Kemudian pertemuan kedua terjadi pada 9 Desember, dengan tujuan yang jauh dari kata romantis: perjalanan ke Samsat Kalianda. Terasa janggal, tapi justru di sanalah keunikan itu muncul. Kami sempat ragu untuk turun bersama, namun keraguan itu kalah oleh keberanian kecil. Tanpa banyak canggung, kami melangkah. Usai urusan selesai, kami menikmati mie ayam sederhana, berkeliling kota, lalu menunaikan salat Dzuhur berjamaah—sebuah jeda tenang di tengah hari.
Dalam perjalanan pulang, pandangan kami tertarik pada pantai. Mobil pun menepi di salah satu pantai di wilayah Tarahan, Lampung Selatan. Di sana, suasana menjadi lebih sunyi dan hangat. Ada rasa yang tumbuh tanpa banyak kata, sebuah kedekatan yang membuat perpisahan terasa berat ketika hari beranjak sore.
Pertemuan ketiga berlangsung singkat dan mendadak pada 11 Desember, selepas Magrib. Kami sepakat bertemu tanpa pergi ke mana-mana, hanya berbincang di parkiran rumah sakit. Malam itu sederhana, penuh kebahagiaan, namun harus berakhir cepat karena tanggung jawab lain, Ainan menanti di Duta square.
Tanggal 16 Desember, pertemuan keempat diwarnai hal-hal kecil yang bermakna: kerupuk kentang balado pesanan FL dan bakwan buatan tangannya. Tak lama, tapi cukup untuk menghangatkan susana malam itu.
Pertemuan kelima pada 19 Desember pagi bahkan lebih singkat lagi—sekadar saling menatap dari kejauhan di depan sekolah anaknya. Anehnya, itu sudah cukup membuat hati puas. Dari situlah FL mulai berani bercerita kepada salah satu teman yang ia percayai tentang hubungan ini.
Tanggal 23 Desember, kami kembali bertemu untuk makan siang. Ia memilih mie ayam, aku pecel sederhana. Setelah itu, kami berkeliling, singgah di parkiran pusat perbelanjaan, lalu melanjutkan perjalanan hingga ke sebuah kampus negeri. Hari itu menjadi penanda bahwa kedekatan kami semakin nyata, meski tetap tersembunyi.
Malam 26 Desember menjadi pertemuan ketujuh yang penuh keberanian. FL nekat keluar rumah meski suaminya ada. Kami hanya berkeliling tanpa tujuan jelas, hingga sebuah kejadian tak terduga—singgah di area rumah sakit, laju kaki terhenti tepat di dekat ruang jenazah—membuatnya ketakutan dan berlari kecil. Hingga membuat FL mimpi buruk namun justru menjadi kenangan lucu di kemudian hari.
Pertemuan kedelapan terjadi pada 30 Desember, di bawah hujan deras sepulang dari kampus. Aku menyaksikan betapa besar tekadnya untuk bertemu. Dengan hujan yang membasahi segalanya, kami kembali bertemu di parkiran rumah sakit milik pemerintah. Singkat, basah, namun penuh rasa.
Dan pertemuan kesembilan, pada awal Januari, kembali di tempat yang sama. Malam itu, kami larut dalam suasana hingga melakukan hal yang diluar rencana, membiarkan waktu berjalan tanpa banyak perhitungan hingga.
Itulah rangkaian pertemuan kami dalam satu bulan—tak selalu indah, tak selalu benar, namun nyata. Kini, rencana ke depan pun mulai disusun sederhana: Nonton bersama dan menghadiri resepsi pernikahan. Entah ke mana cerita ini akan berujung, tapi satu bulan itu telah menjadi bagian dari perjalanan yang tak mudah dilupakan.
